Posted by Unknown in
Movie
Sinopsis Film
"Carrie"
Pelemparan tampon, ibu pemuja agama yang setengah gila, kekuatan telekines mengerikan sampai pesta prom penuh darah babi dan kobaran api, wahai para penggemar horor, kita akan mengulangi semuanya itu sekali lagi setelah nyaris empat dekade berlalu dalam remake terbaru adaptasi novel Stephen King, Carrie. Film aslinya bikinan Brian De Palma adalah horor klasik yang akan dikenang selamanya, dan kalau mau jujur, tidak perlu di remake. Lalu jika kamu masih nekat mendaur ulangnya tentu saja harus memperlakukannya dengan penuh hormat sekaligus hati-hati karena salah-salah nantinya akan berakhir seperti remake pertamanya 2002 lalu ketika David Cars0n merusaknya.
Kini ada sutradara perempuan yang pernah berjasa memberikan Hilary Swank Oscar pertamanya dalam Boys Don’t Cry, Kimberly Peirce mencoba mengemban tugas berat ini. Konon Peirce sendiri adalah fans beratCarrie 1976 (siapa yang tidak?), dan kini ia tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk membuat kembali horor favoritnya dengan restu De Palma sendiri, namun sebagai bonusnya, ia juga mendapatkan amunisi castdengan dua nama besar. Ada si Hit Girl Chloë Grace Moretz dan aktris veteran Julianne Moore yang akan mengisi slot utama sebagai pasangan ibu-anak; Carrie dan Margaret White.
Seperti janji Peirce, ia akan berusaha sesetia mungkin dengan novelnya, tapi apa yang terjadi, setia bukan berarti malas. Kecuali openingnya yang berisi tentang bagaimana proses kelahiran Carrie, versi remake-nya ini seperti mentah-mentah sedang melakukan copas dari milik De Palma di banyak beberapa adegan per adegannya. Bagi yang belum pernah menonton versi aslinya mungkin tidak masalah, namun buat penonton veterannya apa yang dilakukan Peirce terkesan malas meskipun harus diakui ia melakukan beberapa penyegaran di visualiasasinya yang melibatkan banyak budaya pop modern dan efek CGI memukau yang jelas tidak kamu dapatkan di versi klasiknya.
Sementara narasinya sendiri masih sama persis, jadi jangan mengharapkan kejutan apapun jika sudah pernah melihat versi De Palma ataupun David Carson. Ini cerita tragis tentang Carrie (Chloë Grace Moretz), gadis kuper yang di-bully habis-habisan oleh teman-teman sekolahnya karena tidak tahu dirinya mengalami menstruasi. Hanya guru olahraganya, Rita Desjardin (Judy Greer) yang bersimpati dengannya. Masalah Carrie bukan hanya tentang haid, di rumah ia kerap kali mendapatkan tekanan dan larangan-larangan dari ibunya, seorang religus fanatik yang sedikit sinting, dan yang tidak/belum diketahuinya, Carrie punya kekuatan mengerikan tersembunyi yang tidak bisa dikendalikannya.
Banding membandingkan tentu tidak bisa dielakan dalam kasus sebuah remake, itu sudah pasti. Versi De Palma itu punya tone kelam dengan kandungan horor psikologis kental plus akting Sissy Spacek yang menghantui, sebuah kombinasi sempurna untuk cerita coming-of age penuh bullying, antisosial dan tumpahan darah. Sementara perubahan dilakukan di remake milik Peirce dengan cerita yang lebih disederhankan lagi, sedikit menambah awal dan merubah endingnya dengan setting lebih ngepop, pergerakan narasi yang cepat, terlalu cepat malah sampai-sampai nyaris melupakan bahwa ia masih harus mengaris bawahi hubungan ibu-anaknya yang menjadi nyawa terbesar Carrie selain klimaksnya yang mengerikan itu.
Ya, relasi benci-sayang antara Carrie dan Ibunya memang menjadi daya tarik tersendiri. Jika De Palma berhasil mengeksplorasi bagian ini dengan lebih besar ketimbang bagian lainnya, Peirce lebih memilih untuk meberikan porsi lebih kepada sosok Carrie dan bagaimana gadis itu secara sadar dan senang menggunakan kekuatannya. Hasilnya, ini malah lebih terlihat versi spin off Jean Grey dari X-men ketimbang horor psikologis, apalagi dengan banyaknya eksploitsi kemampuan telekinesisnya yang diobral. Beruntung Peirce punya duet Moretz dan Moore yang tampil bagus. Moretz memang lebih cantik dan terlihat lebih ‘normal’ ketimbang Spacek, tetapi itu bukan masalah ketika aktris yag baru berusia 16 tahun Pebruari lalu sanggup menghadirkan versi ‘freak-nya’ sendiri dengan menyeimbangkan kepolosan dan sisi gelap dengan sangat baik. Sementara Moore adalah versi lebih gelap dari Margaret White-nya De Palma. Peirce mencoba menampilkan sisi lain Margaret lewat performa apik Moore, sayang kita hanya akan melihat lebih banyak kebencian ketimbang kasih sayang seorang ibu yang seharusnya bisa disajikan lebih berimbang.
Source : http://movienthusiast.com/

No Response to " "
Posting Komentar